Dasar Aku


Bagaimana mungkin aku berkata pada yang orang lain bahwa semua harta, jabatan, keluarga dan teman-teman yang ada disekitar adalah milik ku?. Bagaimana mungkin bisa tercipta perasaan aku memilikinya?. Seangkuh itukah diriku, sampai saya lupa bahwa diri ini bukan milik ku. Kita semua, diri ini dan alam semesta adalah milik Sang pencipta. Semua peristiwa yang terjadi atas kehendak dan se-izinnya dan akan kembali kepada-Nya. Pertanyaannya apakah kita ikhlas kalau semua dan segala sesuatu yang melekat pada diri ini sewaktu-waktu akan dikembalikan?

Dasar aku yang belum bisa meluapkan rasa terimakasih kepada Sang pencipta diri ini. Lebih banyak berfoya-foya menghabiskan harta dan menyia-nyiakan waktu yang telah diamanatkan kepada ku. Lupa bahwa ada tujuan yang lebih penting untuk meraih kehidupan yang abadi. Aku lupa bahwa ada iman yang harus saya jaga sampai akhir hayat ini.

Maka Sudah sampaikah iman pada diri ini? Entahlah bersyukur lalu ku bersujud. Paradoks memang, tapi tiap mereka yang punya iman, ditanya "Apakah engkau beriman?" Pasti akan galau. Dijawab "Iya" mereka khawatir, dijawab "Tidak", malah lebih parah, sebab keimanan itu menyuruh pemiliknya untuk punya dua sikap, berharap dan khawatir. Berharap Allah ridha padanya, tapi khawatir berat kalau Allah tak ridha.

Dia takkan mengutamakan dirinya, memuji dan mensucikan dirinya, sebab dia terus-menerus mencurigai dirinya. Dia lebih takut, dia termasuk mereka yang justru penjahat. Dia takut menjadi golongan orang-orang yang tidak di perhatikan oleh Allah di hari kiamat. Tidak diberikan syafaat oleh Nabi Muhammad SAW. Dia takut justru dirinya itu termaksud golongan yang zalim terhadap diri sendiri yang melampaui batas.

Syaikh Ahmad Ar-Rifa'i, seperti penuturan Syaikh Ramadhan Buthi, seorang alim yang tinggi ilmunya, bila mengajar murid-muridnya selalu berkaya. Nasihatnya, "Aku akan dikumpulkan dengan Fir'aun, Namrud dan Hamman, jika aku memandang diriku lebih baik daripada siapapun diantara kalian", masyaAllah. Maka iman akan menyebabkan diri kita memandang Muslim yang lain dengan pandangan rahmah. Tapi selalu mencurigai dan menelisik diri sendiri, keras pada diri kita. Selalu khawatir ada perilaku tercela pada dirinya.

Mereka yang beriman, dia tak bisa menjamin surga Allah padanya, bagaimana mungkin dia akan berpikir bahwa ibadahnya lebih baik dari orang lain. Bagaimana mungkin dia bisa memastikan neraka bagi orang lainnya, ini akhlak mereka yang beriman. Mereka yang beriman, terus mencari riya dan takabur dalam hatinya, ia tersibukkan dengan aib-aib dirinya sendiri, hingga tak susahkan diri mencari-cari aib orang lain. Selalu menutup diri dari kekurangan orang lain.

Bila melihat yang lebih tua, ia menganggapnya sudah lewati fitnah yang belum ia lewati. Bila bertemu yang muda, maka ia kagumi sedikitnya dosa yang baru diperbuatnya. Agar dapat terhindar dari perbuatan yang merendahkan yang lain dan terjaga dari sifat menutup diri dari kebenaran. Mereka yang sudah selesai dengan dirinya, akan lembut pada sesamanya. Mereka akan selalu berprasangka baik tehadap sesamanya. Mereka yang tenang dari rumahnya, takkan dikuasai amarah sejadi-jadinya, Alhamdulillah.

Syaf (29/09/2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Etika Seni

Ingatan adalah Perpustakaan