Ingatan adalah Perpustakaan
Lahir, hidup dan mati, itulah siklus
alamiah yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Dunia ini adalah ruang kelas,
yang masa belajarnya dimulai sejak kelahiran dan akan berakhir ketika kematian
datang. Berapa lama kita telah hidup di dunia, itu semua adalah pelajaran. Apa
yang kita rasa dan pikirkan sejak lahir hingga kini sejauh ingatan, itu semua
adalah referensi yang siap kita unduh kapan saja untuk bekal menulis novel.
Dari lahir hingga kini, dari masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa, kita
bertemu dengan orang-orang, kita mendengar (membaca) hal-hal, kita berbicara
(menulis) hal-hal, kita melihat keadaan-keadaan, kita dipertemukan dengan
situasi kondisi beragam, itu semua merupakan bahan riset yang siap kita unduh
kapan saja untuk kita tuang dan kembangkan dalam novel. Semua yang melingkupi
kita adalah simbol yang berbicara bagi yang mendengarkan, dan itu semua bisa
menjadi bahan untuk novel.
Siapapun, apapun, bagaimanapun, kapanpun dan
dimanapun adalah guru kehidupan yang siap memberikan pelajaran untuk dituangkan
ke dalam novel. Ingatan kita adalah perpustakaan kita. Pengalaman dan perasaan
kita adalah referensi kita. Itulah mengapa semua penulis novel tidak akan
pernah kekurangan bahan tulisan. Mengingat pengalaman dan perasaan tiap orang
itu berbeda-beda, satu dengan yang lain tidak ada yang sama persis. Semua bahan
tulisan sudah tersedia, kita tinggal memetiknya. Yang kita butuhkan hanyalah
duduk tenang, diam hening dan biarkan tangan kita digerakkan oleh-Nya. Duduk
tenang, diam hening dan menulis. Menulis karena ingin menulis. Menulis dalam
bahagia, bahagia dalam menulis, hingga tidak tahu lagi mana yang terlebih dulu
hadir, menuliskah atau bahagiakah. Hingga menulis menjadi refleks, menjadi
spontan. Saat bad mood adalah waktu yang tepat untuk menulis. Saat good mood
adalah waktu yang tepat untuk menulis. Saat sedih adalah waktu yang tepat untuk
menulis. Saat senang adalah waktu yang tepat untuk menulis. Saat malas adalah
waktu yang tepat untuk menulis. Saat rajin adalah waktu yang tepat untuk
menulis. Saat tidak bersemangat adalah waktu yang tepat untuk menulis. Saat
bersemangat adalah waktu yang tepat untuk menulis. Saat marah adalah waktu yang
tepat untuk menulis. Saat tenang adalah waktu yang tepat untuk menulis. Saat
cemburu adalah waktu yang tepat untuk menulis. Saat tidak cemburu adalah waktu
yang tepat untuk menulis. Semua saat itu adalah bentuk emosi di dalam diri yang
bergerak fluktuatif. Semua keadaan di dalam diri itu diperlukan dan itu merupakan
bahan bakar dalam menulis yang membuat novel kita menjadi bergelombang. Seperti
jalannya hari-hari yang telah kita lalui, bukankah senang dan susah datang
silih berganti, begitu pula sebuah novel yang bercerita tentang kehidupan
manusia. SEMANGAT YANG HILANG YANG KEMBALI Tak ada yang lebih menyedihkan
selain kehilangan semangat.
Apa jadinya petani yang menggantungkkan cangkulnya.
Apa jadinya pebulutangkis yang menggantungkan raketnya. Apa jadinya penulis
yang menggantungkan penanya. Mungkin ada rencana lain. Tak ada yang keliru
dengan itu sepanjang diri ini menyadarinya. Dan bagi yang memiliki passion yang
kuat dalam menulis, semangat yang hilang juga adalah sesuatu yang manusiawi.
Bisa jadi itu merupakan sinyal untuk berhenti sejenak, memikirkan kembali perjalanan
yang telah ditempuh, sudah tepatkah arahnya, sudah tepatkah cara mencapainya.
Sejenak memberi jeda kepada diri sendiri, bertanya kepada diri, mau apa mau
kemana, benarkah hal yang dilakukan kini merupakan impian terbesar dalam hidup.
Setiap orang tentu memiliki kegandrungan terhadap sesuatu, misalnya seorang
penulis ingin menyenangkan hati ibunya. Keinginan menyenangkan hati ibu bisa
dikembangkan menjadi keinginan untuk menyenangkan hati banyak orang. Dengan
keinginan seperti itu, seorang penulis yang sedang kehilangan semangat tentu
tidak akan berlama-lama membiarkan diri berada dalam situasi kehilangan
semangat. Ia tahu ia harus bekerja keras untuk menjemput impiannya. Ia terus
bergerak maju mendekati tujuan. Walau pada akhirnya katakanlah tujuan itu tidak
sampai, ia tidak akan menyesal sebab ia tahu telah melakukan yang terbaik
secara maksimal. Bagaimana bila dalam kondisi stagnant, merasa menghadapi
kebuntuan, beku, mandek saat memulai tulisan baru? Keadaan itu juga adalah
bentuk rasa, namun sepanjang hasrat menulis itu menggelora di dalam dada, maka
akan selalu lahir tulisan baru. Kuncinya sama, duduk tenang diam hening,
perhatikan percabangan gagasan yang lalu lalang di kepala, putuskan untuk
memilih satu di antaranya dan jalan ke depan, jangan berhenti, jangan mundur,
jangan menengok ke belakang lagi. Ingat, langit tidak selalu biru. Daun tidak
selalu berwarna hijau. Mendung tidak selalu akan turun hujan. Menulis adalah
jalan, bukan tujuan. Selamat jalan. -Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar