Ketidaksukaan
Mengelola ketidaksukaan ketika mengerjakan kebaikan untuk berusaha ikhlas, walaupun rasanya pahit untuk berubah menjadi lebih baik. Ibarat obat jika dikomsumsi rasanya pahit tapi menyembuhkan. Kesembuhan akan didapatkan ketika dikerjakan secara kontunu, begitu pula ibadah.
Hanya saja, belum tentu itu sampai ke hati, belum tentu dimengerti, apalagi dipahami. Sebab ia perlu latihan, perlu pengorbanan, perlu cinta dan kedewasaan, perlu kasih sayang dan perlu kemudahan dari Allah.
Ketidaksukaan terhadap apapun yang pun yang terjadi pada diri kita ini adalah yang terbaik untuk kita. Seseorang yang telah bekerja keras membanting tulang mencari rejeki tetapi tetap tak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Seorang anak muda berharap pada seorang wanita idamananya selama bertahun-tahun akhirnya menikah dengan orang lain. Jika muncul ketidaksukaan terhadap apa yang terjadi, bagaimana kita menyikapinya, akankah kita tetap berprasangka baik?. Allah menciptakan manusia dengan sifat keluh kesah. jika ia mendapatkan kebaikan dia menjadi kikir (QS. Al-Ma'arij : 20-21).
Sebab manusia itu cenderung lebih mudah menghakimi ketimbang memahami, lebih pintar menemukan kekurangan ketimbang menghargai kelebihan. Sedikit yang mau bersusah mendidik ketimbang menghardik, berdiskusi ketimbang persekusi.
Ada mereka yang kita suka, dan sudah pasti kita bersepakat dengan mereka, itu wajar. Yang sulit, adalah mereka yang kita tak suka, namun tetap bersepakat dalam kebaikan. Mengelola ketidaksukaan itu adalah salah satu yang diajarkan agama Allah.
Sahabat dan manusia umumnya benci perang, benci bila Rasulullah yang mereka cintai harus ada di keadaan yang berbahaya, benci harus memerangi keluarga mereka, benci berpayah dalam jihad.
Namun saat itu ketentuan Allah, mereka tetap berangkat menemani nabi sepenuh hati, dan disitu Allah memberikan balasan atas kuatnya mereka mengelola ketidaksukaan.
Balasan itu Allah sediakan bagi mereka yang mampu memilih mencinta saat bisa membenci, bagi mereka yang memilih berdamai di saat mereka bisa meluluhlantakkan.
Tak ada balasan, pada mereka yang hanya mengikuti hawa nafsu. Sebab mengikuti hawa nafsu itu mudah, enak, dan tak perlu ilmu, tak perlu kasih sayang, tak perlu pengorbanan.
Begitu juga ukhuwah, ia tak pernah mudah. Kadang kita disakiti, kadang kita diperlakukan tak adil, kadang kita dicurangi. Tapi apa yang sudah dipersatukan Allah, tak selayaknya oleh dipecah manusia
Maka, meski kita tak sepakat dalam satu hal, tak sama dalam bersikap, tidak lalu kita menuntut untuk membubarkan. Bukankah anggota badan itu harus berbeda fungsinya?
Meski memuncak rasa kesal, membuncah rasa sebal. Tak mesti diluapkan dengan menuntut keburukan pada saudara kita, ormas apapun itu. Sebab kita satu tubuh.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat pribadi dan kita semua tentang mengelola ketidaksukaan apapun itu. Wallau wa’lam.

Komentar
Posting Komentar